Dari aset yang dihindari menjadi peluang investasi

Selama bertahun-tahun, perusahaan asuransi yang dijual di Korea Selatan kerap dipandang sebagai aset yang sulit ditangani. Populasi yang menua, suku bunga rendah dalam jangka panjang, serta janji bunga tinggi pada produk lama membuat beban perusahaan terus membesar. Namun, belakangan sejumlah calon pembeli kembali melirik sektor ini karena melihat nilai strategis dari dana jangka panjang yang dihimpun perusahaan asuransi.

Perubahan minat itu tampak pada KDB Life, yang selama lebih dari satu dekade berulang kali gagal menemukan pemilik baru. Pada Agustus 2026, Korea Investment Holdings ditetapkan sebagai calon pembeli pilihan untuk melanjutkan pembicaraan. Sementara itu, Yes Byeol General Insurance, yang sempat tersendat setelah ditetapkan sebagai lembaga keuangan bermasalah, bersiap berpindah ke OK Financial Group.

Perusahaan asuransi tidak otomatis menjadi bisnis menarik hanya karena harganya turun. Peluangnya bergantung pada kemampuan pembeli mengelola kewajiban yang dapat berlangsung hingga puluhan tahun.

Mengapa sektor asuransi lama dianggap berisiko?

Beban janji lama dan perubahan aturan

Salah satu masalah utama berasal dari produk asuransi lama yang menjanjikan tingkat bunga tetap tinggi. Ketika bunga pasar turun, perusahaan mungkin memperoleh hasil investasi yang lebih rendah daripada bunga yang harus dibayarkan kepada pemegang polis. Selisih yang merugikan ini disebut negative spread atau selisih negatif antara hasil investasi dan biaya kewajiban.

Risiko tersebut menjadi semakin penting ketika harapan hidup meningkat. Perusahaan yang menjual asuransi jiwa, pensiun, atau perlindungan jangka panjang mungkin harus membayar manfaat dalam waktu lebih lama daripada perkiraan awal. Artinya, kewajiban hari ini dapat berubah karena kondisi ekonomi dan demografi pada masa mendatang.

Sejak 2023, standar akuntansi baru IFRS 17 dan sistem kecukupan modal K-ICS diterapkan di Korea Selatan. Keduanya mendorong perusahaan menilai kewajiban asuransi berdasarkan nilai saat ini dan memperhitungkan risiko dengan lebih jelas. Dengan demikian, perubahan suku bunga atau jumlah klaim dapat lebih cepat terlihat dalam laporan keuangan dan posisi modal perusahaan.

Membeli perusahaan berarti mengambil kewajiban masa depan

Dalam akuisisi perusahaan biasa, pembeli sering menilai pabrik, merek, penjualan, dan potensi keuntungan. Dalam pembelian perusahaan asuransi, pembeli juga mewarisi kontrak yang menjanjikan pembayaran kepada nasabah pada masa depan. Karena itu, kondisi kontrak yang sudah dimiliki—disebut portofolio polis atau kumpulan kontrak asuransi aktif—dapat sama pentingnya dengan aset perusahaan.

Pembeli perlu memeriksa apakah jangka waktu asetnya cocok dengan jangka waktu kewajibannya. Para ahli menyebut pengukuran rentang waktu penerimaan dan pembayaran tersebut sebagai durasi. Jika perusahaan harus membayar klaim dalam waktu lama tetapi asetnya cepat jatuh tempo, perusahaan mungkin kesulitan mengatur dana saat pembayaran harus dilakukan.

  • Kualitas polis: apakah premi dan manfaat dari kontrak yang sudah berjalan masih dapat dikelola secara sehat.
  • Kecukupan modal: seberapa kuat perusahaan menanggung kerugian atau perubahan kondisi pasar.
  • Pengelolaan aset: kemampuan menginvestasikan dana tanpa mengambil risiko yang tidak sepadan.
  • Kesesuaian jangka waktu: apakah waktu pencairan investasi sejalan dengan jadwal pembayaran klaim.

Riwayat panjang KDB Life dan perubahan cara berbagi risiko

KDB Life memiliki sejarah yang panjang dan berliku. Pada pertengahan 2000-an, Grup Kumho Asiana mengalami krisis likuiditas setelah mengakuisisi perusahaan besar, termasuk Daewoo Engineering & Construction dan Korea Express, dengan pinjaman besar. Untuk memberi waktu bagi restrukturisasi, Korea Development Bank membantu membentuk dana investasi yang membeli sejumlah aset, termasuk perusahaan yang kemudian berganti nama menjadi KDB Life.

Daewoo Engineering & Construction akhirnya dijual kepada Grup Jungheung pada 2021. KDB Life, sebaliknya, tetap menjadi pekerjaan rumah bagi pemiliknya karena kondisi keuangan yang memburuk dan proses penjualan yang berulang kali gagal. Sejak 2014, sudah ada enam upaya penjualan yang tidak berhasil sebelum proses ketujuh mengarah pada calon pembeli baru.

Salah satu pelajaran dari proses tersebut adalah bahwa transaksi asuransi tidak hanya ditentukan oleh harga pembelian. Hal yang juga penting ialah berapa banyak modal tambahan yang harus disediakan setelah akuisisi. Korea Investment Holdings dilaporkan menawarkan penambahan modal hingga sekitar 1 triliun won setelah pembelian, sementara pihak penjual, Korea Development Bank, dikabarkan mempertimbangkan tambahan sekitar 500 miliar won.

Dalam kasus Yes Byeol General Insurance, proses penawaran juga dikaitkan dengan dukungan untuk memulihkan kondisi perusahaan dari Korea Deposit Insurance Corporation. Jika sebagian risiko dibagi dengan penjual atau lembaga publik, calon pembeli tidak harus menanggung seluruh beban sendiri. Pembagian beban semacam ini dapat membuat transaksi yang sebelumnya sulit dilakukan menjadi lebih mungkin.


Dana premi dapat menjadi sumber pendanaan jangka panjang

Apa yang dicari kelompok keuangan?

Bisnis keuangan pada dasarnya mengumpulkan dana, kemudian menyalurkannya atau menginvestasikannya untuk memperoleh hasil. Bank biasanya memperoleh dana dengan biaya relatif rendah, tetapi ruang gerak investasinya dibatasi oleh aturan. Perusahaan sekuritas memiliki kemampuan investasi, tetapi ketika pasar memburuk, pengumpulan dana bisa menjadi lebih sulit.

Perusahaan asuransi memiliki pola yang berbeda. Premi diterima lebih dahulu, sedangkan klaim dan manfaat biasanya dibayarkan kemudian, sesuai ketentuan polis. Karena itu, perusahaan dapat mengelola kumpulan dana dalam jangka panjang—selama tetap menyimpan cadangan yang cukup untuk memenuhi kewajiban kepada nasabah.

Bagi Korea Investment Holdings, perusahaan asuransi dapat menyediakan sumber dana stabil yang melengkapi kemampuan pengelolaan asetnya. Bagi OK Financial Group, kepemilikan perusahaan asuransi dapat membantu memperluas sumber pendanaan di luar kegiatan pinjaman yang selama ini menjadi kekuatannya. Hubungan seperti ini menjelaskan mengapa perusahaan asuransi dapat menarik minat kelompok keuangan yang memiliki keahlian berbeda.

Pelajaran dari Warren Buffett

Model ini sering dikaitkan dengan Warren Buffett dan Berkshire Hathaway. Perusahaan tersebut menerima premi sebelum harus membayar klaim, lalu menginvestasikan dana yang berada dalam pengelolaannya selama masa tunggu. Dana yang dihimpun dengan cara ini dikenal sebagai float, yaitu uang premi yang sementara dikelola perusahaan sebelum dibayarkan untuk klaim atau manfaat.

Pada akhir 2025, nilai float Berkshire Hathaway tercatat sekitar 176 miliar dolar AS. Jika bisnis asuransinya juga menghasilkan keuntungan, biaya untuk memperoleh dana tersebut dapat menjadi sangat rendah, bahkan secara ekonomi bisa terasa seperti perusahaan dibayar untuk memegang dana. Namun, uang itu tetap bukan milik perusahaan secara bebas: pembayaran kepada pemegang polis tetap harus dipenuhi ketika jatuh tempo.

Perusahaan investasi besar lain juga menggunakan pendekatan serupa. Apollo Global Management mengambil alih perusahaan layanan asuransi jiwa, pensiun, dan masa pensiun Athene pada 2022. KKR kemudian menjadikan Global Atlantic, perusahaan di bidang asuransi jiwa dan pensiun, sebagai anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki pada awal 2024.

Bagi perusahaan investasi yang mengelola dana berjangka, kepemilikan perusahaan asuransi dapat memberi akses ke sumber dana yang lebih berkelanjutan. Dana investasi biasa memiliki masa berlaku dan pada akhirnya harus mengembalikan modal kepada investornya. Sebaliknya, perusahaan asuransi dapat terus menerima premi dari berbagai polis, meskipun setiap kewajibannya tetap memiliki aturan dan waktu pembayaran masing-masing.


Dana jangka panjang bukan uang gratis

Mengandalkan premi sebagai sumber dana memiliki risiko yang tidak boleh diabaikan. Perusahaan bisa membutuhkan tambahan modal jika kerugian meningkat, suku bunga berubah, atau banyak nasabah membatalkan polis. Pembatalan kontrak disebut lapse atau penghentian polis sebelum masa berlakunya selesai, dan jumlah yang tinggi dapat mengganggu perkiraan arus dana perusahaan.

Risiko lain muncul ketika aset dan kewajiban tidak bergerak searah. Sebagai contoh sederhana, perusahaan mungkin memiliki investasi yang nilainya turun saat bunga naik, sementara pembayaran yang dijanjikan kepada nasabah tidak ikut berkurang. Jika perbedaan itu tidak dikelola dengan baik, perusahaan dapat menghadapi kekurangan modal tepat ketika harus membayar klaim.

Untuk menghindari keadaan tersebut, perusahaan membutuhkan manajemen aset dan liabilitas, yaitu cara menyelaraskan investasi dengan pembayaran yang dijanjikan. Ini mencakup pemilihan aset, pengaturan jatuh tempo, pengujian berbagai kemungkinan perubahan suku bunga, dan pemeliharaan modal yang cukup. Keahlian tersebut harus berjalan bersama kemampuan memperbaiki operasi inti perusahaan, bukan sekadar mengandalkan strategi investasi.

  • Dana premi tetap terkait dengan hak pemegang polis dan harus digunakan dengan hati-hati.
  • Kenaikan hasil investasi tidak menjamin keuntungan jika risiko dan biaya klaim juga meningkat.
  • Tambahan modal mungkin diperlukan meski perusahaan dibeli dengan harga rendah.
  • Kesalahan dalam mengukur kewajiban jangka panjang dapat baru terlihat setelah bertahun-tahun.
Harga murah dapat menjadi kesempatan jika pembeli mampu memperbaiki risiko. Tanpa modal dan kemampuan pengelolaan yang memadai, harga murah justru dapat menutupi beban yang jauh lebih besar.

Persaingan akuisisi masih bergantung pada angka

Penunjukan calon pembeli pilihan untuk KDB Life dan persiapan penjualan Yes Byeol General Insurance menunjukkan bahwa pasar mulai menemukan cara untuk membagi risiko. Namun, kedua transaksi tersebut belum berarti seluruh proses telah selesai. Pemeriksaan kondisi perusahaan, kesepakatan akhir, persetujuan yang diperlukan, serta kesiapan tambahan modal masih menentukan hasil akhirnya.

Lotte Insurance juga tengah mempersiapkan penjualan terbuka setelah pembicaraan harga dengan Shinhan Financial Group tidak mencapai kesepakatan. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa minat terhadap sektor asuransi tidak menghapus perbedaan pandangan mengenai nilai perusahaan. Pada akhirnya, penjual dan pembeli harus menyepakati harga sekaligus menghitung kebutuhan modal dan risiko yang akan dibawa setelah transaksi.

Perubahan yang terjadi bukan bukti bahwa perusahaan asuransi tiba-tiba menjadi bisnis tanpa masalah. Peluang muncul karena harga mulai mencerminkan risiko, dukungan dari pihak penjual atau lembaga publik ikut dipertimbangkan, dan kelompok keuangan mencari cara untuk memperluas sumber dana. Kombinasi ini dapat mengubah aset yang sebelumnya dihindari menjadi peluang bagi pembeli yang tepat.


Kemampuan mengelola waktu menjadi penentu

Dalam transaksi perusahaan asuransi, kemampuan penting bukan hanya membeli dengan harga rendah. Pembeli harus memahami kapan dana masuk, kapan kewajiban jatuh tempo, dan bagaimana nilai aset berubah dalam berbagai kondisi. Dengan kata lain, perusahaan asuransi adalah bisnis yang mengelola jarak waktu antara premi yang diterima hari ini dan pembayaran kepada nasabah bertahun-tahun kemudian.

Bagi pembeli yang mampu mengelola rentang waktu tersebut, perusahaan asuransi dapat menjadi sumber pendanaan jangka panjang dan mendukung kegiatan investasi lain. Namun, bagi pembeli yang tidak memiliki modal cukup atau gagal mencocokkan aset dengan kewajiban, dana yang tampak besar dapat berubah menjadi beban yang terus membesar.

Pada akhirnya, pertanyaan utama bagi setiap calon pembeli tetap sederhana: apakah mereka dapat mengelola waktu dan risiko perusahaan asuransi dengan lebih baik daripada pemilik sebelumnya? Jawabannya akan menentukan apakah akuisisi menjadi sumber pertumbuhan berkelanjutan atau justru awal dari masalah keuangan baru.