1. Kisah Manusia: Tiga Hari yang Terasa Mustahil

Sari, seorang perempuan yang sedang dirawat di fasilitas kesehatan jiwa di Korea, merasa dirinya ditempatkan di sana bertentangan dengan kehendaknya. Ia mengajukan permohonan kepada pengadilan agar penempatannya ditinjau dan kebebasannya dipulihkan. Namun, pengadilan menolak permohonan itu.

Sari ingin segera mengajukan banding. Masalahnya, ia tidak dapat begitu saja meninggalkan fasilitas untuk mendatangi kantor pengadilan. Seorang petugas menjelaskan bahwa aturan yang berlaku saat itu memberi waktu hanya tiga hari untuk mengajukan banding segera. Keluarga Sari tinggal jauh, dan belum tentu dapat menyiapkan serta mengirim dokumen dalam waktu sesingkat itu.

Bagi Sari, tenggat itu bukan sekadar hitungan kalender. Ia bergantung pada akses ke telepon, bantuan orang lain, dan waktu untuk memahami keputusan pengadilan. Persoalannya pun menjadi lebih besar daripada perkara Sari sendiri: apakah batas tiga hari masih adil jika orang yang harus mengajukan banding sedang tidak bebas bergerak?

2. Pertanyaan Hukumnya

Apakah batas waktu tiga hari untuk mengajukan banding segera terhadap penolakan permohonan pembebasan—bagi pemohon yang sedang ditempatkan di fasilitas—melanggar haknya untuk mendapatkan pemeriksaan pengadilan karena membuat akses ke banding terlalu sulit?

3. Apa Kata Hukum Korea

Undang-Undang Perlindungan Kebebasan Pribadi Korea mengatur cara seseorang yang ditempatkan di suatu fasilitas dapat meminta pengadilan memeriksa apakah penempatannya sah. Aturan yang dipersoalkan menyatakan bahwa pemohon dan orang yang ditempatkan di fasilitas dapat mengajukan banding segera atas keputusan pengadilan dalam waktu tiga hari.

Ketentuan yang diuji menetapkan tenggat tiga hari untuk mengajukan banding segera atas keputusan pengadilan mengenai permohonan tersebut.

Mahkamah Konstitusi Korea menilai bahwa, bagi pemohon yang sedang berada di fasilitas, tenggat itu terlalu singkat dan melanggar hak atas pengadilan. Hak ini bukan hanya hak untuk mengajukan perkara pada awalnya; dalam keadaan yang ditentukan hukum, hak tersebut juga mencakup kesempatan nyata untuk meminta pemeriksaan atas keputusan yang merugikan.

Dalam menilai hambatan tersebut, Mahkamah mempertimbangkan keadaan praktis pemohon:

  • Karena sedang ditempatkan di fasilitas dan kebebasannya dibatasi, pemohon mungkin tidak bisa datang sendiri ke pengadilan untuk menyerahkan dokumen banding.
  • Mengandalkan keluarga atau orang luar tidak selalu menjadi jalan keluar. Pengajuan itu bergantung pada kesediaan dan kemampuan mereka untuk membantu tepat waktu.
  • Pengiriman melalui pos memerlukan waktu untuk menyiapkan dokumen, mengirimkannya, dan memastikan dokumen sampai. Tiga hari belum tentu cukup.
  • Walaupun bantuan pengacara negara dapat tersedia, hal itu tidak otomatis menyelesaikan persoalan tenggat. Mahkamah mencatat bahwa kewenangan pengacara untuk mengajukan banding tidak dapat begitu saja dianggap mencakup hak banding, dan aturan khusus untuk memperpanjang tenggat juga tidak serta-merta berlaku.
  • Kemungkinan mengajukan permohonan baru tidak sama dengan hak untuk meminta pengadilan memeriksa banding atas keputusan yang sudah dijatuhkan.
Hak mengakses pengadilan harus dapat digunakan secara nyata. Jalan alternatif yang belum tentu tersedia tidak dengan sendirinya membenarkan tenggat banding yang terlalu singkat.

Dalam putusan pada 24 September 2015, Mahkamah Konstitusi menyatakan tidak konstitusional bagian ketentuan yang menetapkan tenggat tiga hari bagi pemohon yang sedang ditempatkan di fasilitas. Mahkamah menyimpulkan bahwa aturan itu membatasi hak atas pengadilan secara berlebihan.

4. Cara Pengadilan Korea Melihat Persoalan Ini

Dalam perkara semacam ini, pengadilan tidak cukup bertanya apakah sebuah batas waktu berlaku secara umum. Pertanyaan penting lainnya ialah apakah orang yang terkena aturan benar-benar memiliki kesempatan yang masuk akal untuk mematuhinya. Batas waktu yang sama dapat menimbulkan beban yang sangat berbeda bagi orang yang bebas bergerak dan orang yang ditempatkan di fasilitas.

Mahkamah juga memperhitungkan tujuan aturan tersebut. Tenggat yang singkat mungkin dimaksudkan agar status seseorang tidak terus-menerus berada dalam ketidakpastian. Namun, menurut pertimbangannya, memperpanjang tenggat sedikit saja tidak akan menghambat tujuan itu secara berarti. Karena manfaat tambahan dari tiga hari tidak sebanding dengan hambatan terhadap hak banding, pembatasan tersebut dinilai tidak seimbang.

Ketika seseorang bergantung pada bantuan pihak lain untuk mencapai pengadilan, prosedur harus dinilai berdasarkan akses yang benar-benar tersedia baginya—bukan semata-mata berdasarkan kemungkinan formal di atas kertas.

Putusan ini berkenaan dengan hak untuk mengajukan banding, bukan dengan apakah setiap permohonan pembebasan harus dikabulkan. Pengadilan tetap dapat menilai pokok perkara secara terpisah.

5. Menerapkan Hukum pada Kisah Sari

Pertama, keputusan yang dihadapi Sari adalah penolakan atas permohonannya. Ia ingin meminta pengadilan yang lebih tinggi meninjau keputusan tersebut melalui banding segera, bukan sekadar mengajukan permohonan baru.

Kedua, Sari sedang ditempatkan di fasilitas. Karena itu, ia tidak memiliki kebebasan yang sama dengan orang di luar fasilitas untuk menyiapkan dan menyerahkan dokumen. Jika harus bergantung pada keluarganya, keberhasilannya mengajukan banding dalam tiga hari bergantung pada bantuan yang belum tentu bisa segera diberikan.

Ketiga, mengirim dokumen lewat pos tidak menghapus hambatan itu. Sari tetap perlu mengetahui isi keputusan, menyiapkan pengajuan, dan memastikan dokumen dikirim serta tiba tepat waktu. Tenggat tiga hari dapat habis sebelum seluruh langkah tersebut selesai.

Keempat, ketersediaan bantuan hukum atau kemungkinan mengajukan permohonan baru tidak membuat pembatasan itu otomatis adil. Bantuan hukum tidak selalu berarti pengacara dapat mengajukan banding atas nama klien, dan permohonan baru bukan pengganti yang setara bagi pemeriksaan atas keputusan yang telah menolak permohonan Sari.

Terakhir, kebutuhan untuk memastikan status penempatan secara cepat tetap penting. Namun, Mahkamah menilai bahwa memberi waktu sedikit lebih panjang tidak akan secara berarti menggagalkan tujuan tersebut. Dengan demikian, dalam kerangka putusan Mahkamah, tenggat tiga hari membebani Sari secara berlebihan dan menghalangi aksesnya yang nyata ke proses banding.

6. Kesimpulan: Apa yang Terjadi, dan Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Dalam kisah ini, Sari memiliki dasar untuk menolak penerapan tenggat tiga hari yang dinyatakan tidak konstitusional oleh Mahkamah Konstitusi Korea. Akan tetapi, putusan itu tidak otomatis membatalkan penolakan permohonannya. Pengadilan masih harus menilai apakah permohonan pembebasan tersebut beralasan dan bagaimana aturan prosedural yang berlaku pada saat pengajuan harus diterapkan.

Bagi orang dalam keadaan serupa, langkah praktisnya adalah:

  1. Ajukan banding secepat mungkin. Jangan menunggu sampai persoalan tenggat diperdebatkan; simpan salinan dokumen dan bukti tanggal pengiriman atau penerimaan.
  2. Minta bantuan segera dari pengacara, keluarga, atau lembaga bantuan hukum, dan sampaikan dengan jelas bahwa pemohon sedang ditempatkan di fasilitas serta menghadapi hambatan untuk menghubungi pengadilan.
  3. Pastikan aturan yang berlaku saat ini. Putusan Mahkamah membatalkan dasar konstitusional tenggat tiga hari yang diuji, tetapi tenggat dan prosedur pengganti perlu diperiksa berdasarkan naskah hukum terbaru serta keadaan perkara tertentu.